fbpx

Karyawan Vs Entrepreneur

Karyawan vs Enterpreneur, sebagai mantan karyawan yang pindah ke kwadran Enterpreneur. sungguh bukan hal mudah yang saya rasakan, betul-betul di butuhkan perjuangan yang luar biasa dan kerja keras. Apalagi buat saya yang sudah mengalami kehidupan karyawan selama kurang lebih 20 tahun.

Dibandingkan waktu jadi karyawan, banyak hal yang saya rasakan hilang saat ini. Yang paling utama itu adalah comfort zone. Jadi karyawan itu enak banget, setiap bulan pasti dapat gaji. Mau kerja rajin atau malas-malasan pasti dapat gaji. Sementara kalau bisnis sendiri, harus selalu bergerak baik pikiran atau fisik. Kalau cuma diam mustahil uang bakal datang

Kemudian kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain. Kalau di kantor, kita bisa ngobrol, tukar pikiran dengan sejawat / bawahan / vendor atau partner. Entrepreneur itu rasanya jalan sepi… ha3x… Dan cenderung dipandang sebelah mata oleh orang. Kecuali kita adalah pebisnis sukses yang ditandai dengan kepemilikan sejumlah aset mentereng. Tapi kan untuk mencapai kesitu butuh waktu . Kalau masih ditahap perjuangan seperti Saya … wah… pahit… ha3x…

But I always believe, everything happen for a reason. Saya percaya, pasti ada rencana yang terbaik buat Saya dibalik kepindahan kwadran yang tengah saya jalani sekarang.  Buat Anda yang saat ini tengah mengalami hal yang sama dengan saya, jangan putus asa yah… terus berjuang dan bekerja keras. Percayalah kalau kerja keras itu tidak akan dusta, pasti akan ada hasilnya. Sementara buat yang masih jadi karyawan, please enjoy the ride dan banyak bersyukur. Jangan manja, percaya deh cari nafkah jadi karyawan itu masih jauh lebih enak daripada berjuang di jalur informal.

Berikut beberapa hal dan pengalaman berharga yang saya catat, mewakili perjalanan karir dan hidup Saya diantara dua alam karyawan vs entrepreneur/pebisnis, semoga bisa bermanfaat buat kita semua

Perbedaan Mindset antara Karyawan Vs Enterpreneur

Minset karyawan dengan entrepreneur itu sangat bertolak belakang. Karena terbiasa hidup dalam comfort zone, karyawan tidak terbiasa untuk mengambil resiko. Sementara entrepreneur itu selalu di tuntut untuk berani mengambil resiko. Saya termasuk orang yang konvensional , jadi  tidak berani mengambil resiko high risk. Setiap resiko yang saya ambil, akan saya pastikan terlebih dahulu kalau semuanya masih under control. Selain itu pebisnis juga wajib open mind, kalau enggak potensi bisnis yang bagus bisa terlewatkan.

Recognition / Appreciation

Dibandingkan pebisnis, sebetulnya apresiasi untuk karyawan sangat melimpah ruah… ha3x… Cuma seringkali tidak dirasakan, kebanyakan komplen sama perusahaan dan bos. Coba dipikirkan lagi, kalau jadi karyawan itu, kerja bagus pasti di puji sama bos. Tiap tahun ada evaluation, kalau performa  bagus banget, promosi, naik gaji. Apes-apesnya gaji naik sedikit lah sebagai adjustment  inflasi. Jabatan bagus sedikit… at least manager or something with senior, dijamin vendor bakalan berdatangan, seperti semut berebut gula. Gratifikasi pun mengalir dari mana-mana. Jabatan atau tittle yang di kasih sama kantor juga salah satu bentuk apresiasi lho, walaupun misalnya tidak di sertai kenaikan gaji yang signifikan, minimal nambah keren lah karena udah punya jabatan yang prestige dan sebagai penanda signifikan peningkatan karir.

Kalau Anda sebagai pebisnis mandiri, itu semua tidak akan Anda temui. Tidak ada apresiasi materi yang menyenangkan atau jabatan bergengsi yang bisa di banggakan.  Anda yah Anda thok. Jujur kondisi seperti ini bikin drop, apalagi yang saya rasakan, kok udah kerja keras tapi hasilnya masih begini-begini ajah.

Apresiasi diri Sendiri

Tapi yah itu, alhamdullilah… Allah mempertemukan Saya kembali dengan beberapa orang yang saya kenal saat saya memulai bisnis online ini. Awal terjadinya pertemuan kami dulu, karena kami sama-sama memiliki minat pada internet marketing.  Setelah lost contact selama 2 tahunan, mereka minta bertemu saya. Dalam pertemuan itu, mereka banyak bertanya tentang bisnis online yang saya kerjaan saat ini. Pembicaraan ini menyadarkan Saya, kalau mereka, still stay at the same point where we met, around 2 years ago. They are not getting anywhere. Sementara Saya dalam 2 tahun ini alhamdullilah sudah banyak pencapaian yang saya raih. Walaupun belum sesuai target yang diinginkan, cuma percaya ajah kalau itu semua hanya masalah waktu dan rejeki.

Pelajaran yang sungguh-sungguh sangat berharga, belajar-lah untuk selalu menghargai diri sendiri. Sebetulnya penghargaan terhadap diri sendiri adalah bentuk penghargaan yang  tertinggi, tulus dan jujur dibandingkan penghargaan yang Anda terima dari orang lain.

Pemanfaatkan waktu yang lebih optimal

Sebagai pebisnis, kita dituntut untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin, seperti yang saya sebut didepan, kalau gak gerak, cuma diem ajah, sayang banget waktu yang kita punya, habis begitu ajah gak jadi apa-apa. Sementara kalau kita jadi karyawan, kecenderungan untuk buang-buang waktu sangat besar. Suntuk kerja + pusing, butuh ngopi+ngerokok, eh ada temen ngobrol…  gak kerasa kebuang deh satu jam buat ngobrol ngalor ngidul. Belum lagi kalau kita harus meeting di luar kantor, untuk ukuran Jakarta yang tingkat kemacetannya luar biasa, butuh sekitar 2 jam hanya untuk pulang-pergi ke tempat meeting. Belum lagi kalau meeting-nya ngaret, kita harus tunggu dulu, 30 menit- 1 jam. Oh iya, belum lagi waktu yang terbuang untuk PP dari rumah ke kantor, another 2 hour to be waisted.  In a short term, semua penundaan ini harus di kompensasikan pada penambahan jam kerja, jadinya lembur. In a long term, coba dihitung sendiri kerugiannya… kalau di konversi ke hari, waduh.. mungkin bisa terbuang waktunya itu sampai hitungan tahun.

Super prioritas

Keluar dari comfort zone bakal memaksa Anda untuk menentukan prioritas diatas segala prioritas. Kalau Saya yah…  dulu itu rasanya butuh untuk pakai outfit yang matching from head to toe. sekarang, ternyata punya baju 3 pasang itu cukup yah… ha3x… Silahkan tentukan prioritas Anda, setiap orang pasti punya objective hidup masing-masing. Buat Anda yang masih jadi karyawan, bijaklah dalam mengatur pengeluaran. Kurangi pengeluaran yang bersifat konsumtif, sisihkan untuk budget untuk investasi atau menambah skill yang punya nilai ekonimis karena yang namanyanya karyawan itu pasti akan ada waktunya untuk berhenti.

Entrepreneur

Baca Artikel Lainnya : Instagram Marketing, Primadona Baru Online Marketing Channel

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *